Hmm, cerita berawal di tempat bakso shincan. Abis berpusing-pusing ria ngerjain soal Bahasa Indonesia yang astaghfirullah, membingungkan! Siang itu aku sama Fadhilah Prabarani makan bakso shincan. Gatau darimana sebutan shincan muncul. Yang jelas, anak-anak di sekolah pada manggil tempat itu shincan. Awalnya aku juga bingung kenapa tu tempat dipanggil begituu. Soalnya pak penjualnya sama sekali ga mirip papanya shincan. Apalagi Si Shincan yang gak tinggi-tinggi. Ibu-ibu nya juga ga kayak maminya shincan yang hobi banget nyetakin telor rebus di kepala shincan. Tapi ya itulah.. pokoknya sebut aja bakso shincan.
Jadi, waktu pesen itu tempatnya rada-rada penuh. Yah, berhubung yang kita kenal di situ cuma bagus sama lilik, yah kita gabung aja bareng mereka. Ngobrol-ngobrol gajelas gitu deh pokoknya. Maklum deh yaa, namanya juga ngobrol sama Bagus. Oya disini aku kenalin temenku yang paling gaje sedunia, gajenya ngelebihin si Garingudin. (Emang ada orang namanya Garingudin?) Yaah pokoknya si Bagus ini rajanya gaje. Apa - apa yang diomongin seriing banget bikin orang jumpalitan karena gatau apa maksudnya. Selain itu, si bagusjuga gue nobatin jadi orang 'terjujur' di dunia. Jujurnya, alimnya ngelebihin si Juralimudin. (hah?) -- Virus gaje Bagus ternyata merasuk ke otak saya pemirsa ! Siang itu aja, aku yang biasanya ga gampang kena pengaruh omongan 'jujur' bagus, dengan gampangnya ditipu. Udah gitu aku percaya! omigod.
Abis makan bakso itu, aku ujan turun dengan yaah ga begitu deres sih. Tapi berhubung aku takut sakit, aku bilang dila "dil, pake payung yoo" Dhila setuju-setuju aja tuh. Nyuruh aku ambil payung di tas. Dan, ternyataa, aku gabawa payung. Senjata andalanku mulai muncul deh, senyum cengar - cengir ke arah dila, masang muka innocent nan manis, bicara dengan lembut ke dhila " Dil, hehehe, aku gabawa payung."
Dan seperti dugaanku, dila ngeluarin payung dengan gemulai dari tasnya.
Dan seperti dugaanku, dila ngeluarin payung dengan gemulai dari tasnya.
Tereng-tereeeng. Kita bayar ke Pak Shincan. (emang iya namanya ini?)
Berhubung aku lebih tinggi dari dhila, aku yang megang payung itu. Mayungin dila kesana-kemari membawa alamat. (loh?)
Berhubung aku lebih tinggi dari dhila, aku yang megang payung itu. Mayungin dila kesana-kemari membawa alamat. (loh?)
Dan itulah si penyelamat kami. Angkot jalur 1 yang mau nganterin kita berpetualang ke Broredo. Ciyeh, #lebay. Waktu aku nyegat tu angkot, Dhila dengan santainya masuk. Ga meduliin aku yang kayak anak autis mainin payung pink unyu-unyu di pinggir jalan. Enak aja anak autis! :p
Tapi yaah, kali ini aku terpaksa ngaku, waktu itu mukaku mungkin lebih parah dari orang gila dah. Plolornya aku, gabisa nutup payungnya dila.
Dan itulah. Tiba - tiba terbesit kata-katanya Dion di otakku. "Sudah-sudah, nanti ndak berdarah."
Emang kata "nanti ndak berdarah'' rada ga cocok. Tapi ''sudah-sudah'' nguing-nguing lagi di telingaku. So, What did I decide to do?
Freaaaaak -___-
Aku lempar tuh payung yang belum berhasil aku tutup ke angkot. Gileee, untung aja di dalem angkot cuma ada aku sama Dhila. Fiuuuh, biarpun beberapa mata anak SMA ngeliatin aku dengan tatapan ngejek, aku cuek aja donk. Yang penting mukaku ga plolor :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar